Dari Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan

International Symposium on Food and Agro-biodiversity 2014

Internasional Simposium ini dilaksanakan pada tanggal 16-17 September 2014 di Semarang, Indonesia dan prosiding akan diterbitkan oleh ELSEVIER. Booking tiket Anda dengan mendaftarkan JUDUL ARTIKEL disini. Panitia hanya menerima maksimum 100 artikel ...

Portal Khusus Tanya Jawab Pangan

Portal ini ditujukan untuk memberikan ruang untuk bertanya kepada ahli tentang segala hal yang berhubungan dengan bidang pangan.

Portal Khusus Informasi Pangan Indonesia

Portal ini khusus untuk memuat artikel berupa berita serta tulisan ilmiah singkat populer yang ditujukan untuk masyarakat luas.

Jurnal pangan kami telah diakui LIPI dan sesuai kaidah DIKTI

Anda tidak perlu khawatir lagi terhadap kriteria dari LIPI dan DIKTI karena jurnal kami, sudah masuk dalam list jurnal yang diakui LIPI. Sejak pertama kali terbit, jurnal kami sudah online sehingga mudah untuk di track sesuai standar DIKTI.

Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan

Indonesian Food Technologist Community selalu menampilkan artikel yang menarik untuk disimak dan dikemas dalam sebuah jurnal yang bernama Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan (free access journal).

Thursday, May 21, 2015

Mana yang lebih baik untuk uji antioksidan: ABTS atau DPPH?

Seiring dengan meningkatnya kasus penyakit kanker, maka beberapa produk pangan sebagai sumber antioksidan, kini makin banyak digali potensinya dan makin banyak diteliti. Hampir setiap senyawa bioaktif dalam pangan, selalu dikaitkan dengan aktivitas antioksidannya. Oleh karena itu, dalam artikel ini akan dibahas mengenai uji antioksidan dengan menggunakan dua senyawa populer: DPPH dan ABTS.

Kedua senyawa ini terbukti mampu untuk memberikan indikator kapasitas antioksidan dan lazim digunakan untuk analisis antioksidan pada bahan atau produk pangan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada 50 buah-buahan yang berpotensi memberi efek antioksidan, maka didapat hasil bahwa jika dibandingkan dengan DPPH, maka uji antioksidan dengan menggunakan ABTS ternyata lebih memberikan korelasi positif dengan oxygen radical absorbance capacity (atau ORAC), kadar fenol, dan kadar flavonoid.

Disamping itu, hasil analisis antioksidan dengan menggunakan ABTS dapat memberikan hasil yang lebih tinggi daripada pengujian dengan menggunakan DPPH. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa uji antioksidan dengan menggunakan ABTS ternyata mampu memberikan indikator antioksidan yang lebih baik daripada DPPH.

Artikel ini disarikan dari artikel dengan judul "Comparison of ABTS/DPPH assays to measure antioxidant capacity in popular antioxidant-rich US foods" yang telah dipublikasikan oleh Journal of Food Composition and Analysis Volume 24 Issue 7, p 1043-1048 November 2011.

-------------------------------------------------------

Cara menyadur artikel ini:
Indonesian Food Technologists. 2015. Mana yang lebih baik untuk uji antioksidan: ABTS atau DPPH? Newsletter IFT Edisi Mei 2015.

Tuesday, May 5, 2015

Susu kecipir dan potensinya untuk bahan pangan sumber protein

Rendahnya atensi masyarakat terhadap pemanfaatan kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) sebagai sumber protein alternatif disebabkan oleh rasa langu dari biji kecipir yang telah diproses. Para peneliti dari Program Studi Teknologi Pangan Program Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Pelita Harapan, Tangerang, yaitu Chiara Wijaya, Leonardus Broto Sugeng Kardono, Jeremia Manuel Halim telah berhasil untuk memperoleh metode untuk meningkatkan akseptabilitas susu kecipir dengan penambahan bahan penstabil dan jus jahe.

Penelitian ini berhasil dipublikasikan dalam Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Volume 4 Nomor 4 tahun 2015 yang dapat diperoleh artikel lengkapnya melalui link ini: http://journal.ift.or.id/node/182. Para penelitia ini mencoba untuk mengukur penerimaan konsumen terhadap aroma, rasa, viskositas, dan akseptabilitas susu kecipir secara keseluruhan setelah berbagai proses dilakukan.

Silakan download full artikelnya melalui link yang telah disediakan tersebut. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan akan memuat artikel pangan yang aplikatif seperti ini. Oleh karena itu, segera kirimkan artikel pangan Anda melalui portal resmi jurnal: http://journal.ift.or.id.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Artikel ini disusun oleh kontributor IFTCommunity.
Ingin menjadi kontributor? Jika berminat, silakan ajukan lamaran Anda untuk menjadi kontributor IFTC melalui email: redaksi@ift.or.id

Saturday, April 11, 2015

Makanlah buah tomat matang dan hindari daun tomat

Buah tomat merupakan buah yang lazim dimakan pada saat buah tersebut matang dan ketika buah tersebut belum matang, lebih baik dihindari untuk dikonsumsi karena mengandung komponen yang berbahaya yang dinamakan Solanine, yaitu salah satu golongan alkanoid. Selain itu, ada juga komponen yang dinamakan glikoalkaloid tomatin (glycoalkaloid timatine) dan beberapa glikoprotein yang jika dikonsumsi akan menimbulkan banyak gangguan kesehatan.

Komponen berbahaya tersebut ternyata juga terdapat di dalam daun tomat. Oleh karena itu, daun tomat tidak bisa untuk dikonsumsi. Banyak orang yang menggunakan daun tomat sebagai insektisida dan pestisida dengan mencampurkan daun tomat dengan air dan ditumbuk hingga tercampur merata dan diperam selama beberapa jam.

Efek yang muncul terhadap kesehatan adalah gangguan pencernaan seperti diare, dan gangguan iritasi pada kulit. Selain itu, juga dapat sebagai penyebab terjadinya migren. Oleh karena itu, makanlah buah tomat yang sudah matang agar terhindar dari terkonsumsinya komponen-komponen tersebut.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Artikel ini disusun oleh kontributor IFTCommunity.
Ingin menjadi kontributor? Jika berminat, silakan ajukan lamaran Anda untuk menjadi kontributor IFTC melalui email: redaksi@ift.or.id

JATP Resmi menjadi Member CrossRef: Proof of Quality

Ucapan selamat ditujukan kepada Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan (JATP) karena telah resmi menjadi member dari CrossRef. Hal ini merupakan prestasi yang luar biasa dan menjadi bukti yang otentik bahwa JATP diminati oleh para penulis artikel ilmiah di bidang pangan dan bukti dari kerja keras para anggota dewan redaksi dalam mempertahankan rutinitas terbit jurnal. Sejak pertama kali berdiri, yaitu tahun 2012, JATP mendapat dukungan berbagai artikel dan rupanya untuk mendapatkan artikel dengan kualifikasi tertentu, sangat susah. Hal ini mungkin berhubungan dengan budaya menulis yang masih belum tinggi di Indonesia. Wajar, karena untuk menulis artikel ilmiah yang terbit dalam jurnal, tidak hanya berbekal pada laptop saja, namun juga berbekal pada data. Tahun 2012 telah berhasil dilalui dengan baik karena dinilai dapat menjaga rutinitas terbit sebanyak empat kali dalam setahun. Hal ini berlanjut pada tahun-tahun berikutnya dan rutinitas terbit dapat terjada hingga saat ini.

Satu Artikel untuk Satu Alamat Website
Para penulis artikel ketika harus menunjukkan tulisannya untuk ditunjukkan ke orang lain, misalnya atasan atau tim penilaian angka kredit, biasanya akan ditanyakan apakah artikel ini sudah diunggah ke internet atau belum. Jika sudah diunggah, maka akan ditanyakan alamatnya. Setiap artikel yang dipublikasikan di JATP sudah dipastikan mempunyai alamat link yaitu http://journal.ift.or.id/node/xx. Huruf xx ini adalah angka atau huruf spesifik artikel. Dengan didapatkannya nomor doi, maka tiap artikel kini akan mendapatkan nomor doi yang dapat dijadikan sebagai alamat artikel tersebut dalam jaringan publikasi internasional. Misalnya, sebuah artikel mempunyai doi 10.17728/jatp.2015.10 maka artikel tersebut sebenarnya mempunyai link atau tautan di http://dx.doi.org/10.17728/jatp.2015.10. Silakan dicoba untuk artikel lainnya.

Upaya yang telah dilakukan untuk mendapatkan nomor doi ini adalah suatu bukti nyata bahwa JATP selalu mengedepankan unsur kualitas publikasi. Tunggu apalagi, silakan submit artikel penelitian melalui fasilitas online di http://journal.ift.or.id. Artikel yang masuk akan segera mendapat review dari para reviewer JATP dan dewan redaksi akan selalu pada prinsip: fast response serta rapid review sehingga artikel akan secara cepat dapat dipublikasikan. JATP akan selalu berupaya menjadi mitra para penulis bidang pangan yang dapat diandalkan.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Artikel ini disusun oleh kontributor IFTCommunity.
Ingin menjadi kontributor? Jika berminat, silakan ajukan lamaran Anda untuk menjadi kontributor IFTC melalui email: redaksi@ift.or.id

Thursday, April 9, 2015

Eksplorasi Olahan Makanan Berbasis Biji Gandum Asli Indonesia

Eksplorasi jenis-jenis makanan berbasis biji gandum domestik belum banyak dilakukan di Indonesia. Melihat hal ini, para peneliti pangan dari Fakultas Pertanian Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga yaitu Nugraheni Widyawati, Sony Heru Priyanto, Djoko Murdono, dan Theresa Dwi Kurnia telah melakukan serangkaian penelitian guna mengetahui kualitas berbagai jenis makanan berbasis biji gandum domestik agar enak dan layak dijual dipasaran. Para peneliti tersebut menggunakan produk gandum tropis domestik dengan varietas Dewata. Eksplorasi dilakukan dengan cara melakukan percobaan pengolahan dan pengujian kualitas organoleptik.

Para peneliti ini berhasil melakukan eksplorasi 22 jenis makanan. Berdasarkan hasil eksperimen tersebut, terdapat 21 jenis makanan yang mempunyai kualitas orgnoleptik yang bagus. Silakan baca artikel ini dalam sebuah publikasi di Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Volume 4 Nomor 2 Bulan Mei Tahun 2015 dengan link DOI: http://dx.doi.org/10.17728/jatp.2015.13

Setiap peneliti yang mempublikasikan karya ilmiah di jurnal ini akan mendapat kesempatan untuk tampil di laman resmi Indonesian Food Technologists dan artikelnya dapat dipastikan akan berada pada rangking utama pencarian pustaka pangan di Indonesia.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Artikel ini disusun oleh kontributor IFTCommunity.
Ingin menjadi kontributor? Jika berminat, silakan ajukan lamaran Anda untuk menjadi kontributor IFTC melalui email: redaksi@ift.or.id

ShareThis