Dari Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan

International Symposium on Food and Agro-biodiversity 2014

Internasional Simposium ini dilaksanakan pada tanggal 16-17 September 2014 di Semarang, Indonesia dan prosiding akan diterbitkan oleh ELSEVIER. Booking tiket Anda dengan mendaftarkan JUDUL ARTIKEL disini. Panitia hanya menerima maksimum 100 artikel ...

Portal Khusus Tanya Jawab Pangan

Portal ini ditujukan untuk memberikan ruang untuk bertanya kepada ahli tentang segala hal yang berhubungan dengan bidang pangan.

Portal Khusus Informasi Pangan Indonesia

Portal ini khusus untuk memuat artikel berupa berita serta tulisan ilmiah singkat populer yang ditujukan untuk masyarakat luas.

Jurnal pangan kami telah diakui LIPI dan sesuai kaidah DIKTI

Anda tidak perlu khawatir lagi terhadap kriteria dari LIPI dan DIKTI karena jurnal kami, sudah masuk dalam list jurnal yang diakui LIPI. Sejak pertama kali terbit, jurnal kami sudah online sehingga mudah untuk di track sesuai standar DIKTI.

Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan

Indonesian Food Technologist Community selalu menampilkan artikel yang menarik untuk disimak dan dikemas dalam sebuah jurnal yang bernama Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan (free access journal).

Tuesday, June 23, 2015

One Day Workshop on Food Product Development di Unika Semarang

Dalam rangka menyambut dies natalis ke-20 Fakultas Teknologi Pertanian dan dies natalis Program Master Teknologi Pangan, maka Unika Soegijapranata Semarang akan menyelenggarakan One Day Workshop on Food Product Development pada tanggal 25 Juni 2015 yang dimulai dari jam 08.00-16.00 di Ruang Seminar Gedung ALbertus lantai 2.

Kesempatan ini diberikan kepada para mahasiswa, dosen, peneliti, dan umum untuk dapat mendaftar melalui kontak person dengan nomor 087836358559.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Artikel ini disusun oleh kontributor IFTCommunity.
Ingin menjadi kontributor? Jika berminat, silakan ajukan lamaran Anda untuk menjadi kontributor IFTC melalui email: redaksi@ift.or.id

Monday, June 15, 2015

Teh sebaiknya disimpan dimana?

Teh hitam dan teh hijau sebaiknya disimpan dimana? Ternyata pertanyaan ini menimbulkan banyak jawaban. Bahkan ada juga jawaban yang mengatakan bahwa sebaiknya teh tidak disimpan dalam kulkas. Aninda Ayu Arizka dan Joko Daryatmo dari Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang, telah berhasil meneliti pengaruh pengemasan dan suhu penyimpanan terhadap kualitas teh hitam dan teh hijau. Penelitian ini nampaknya dapat menjawab pertanyaan tentang penyimpanan teh tersebut. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penyimpanan teh pada suhu 10˚C dinilai lebih mampu mempertahankan kualitas teh dan hitam dibandingkan penyimpanan pada suhu 30˚C. Jenis pengemas "paper sack" merupakan kemasan yang berpotensi paling baik dalam mempertahankan kualitas teh.

Artikel penelitian ini dapat dibaca teks lengkapnya dan dapat di download secara gratis melalui website jurnal pangan kami: http://journal.ift.or.id volume 4 nomor 4 tahun 2015. Link secara langsung untuk mendapatkan artikel ini adalah: http://journal.ift.or.id/node/183

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Artikel ini disusun oleh kontributor IFTCommunity.
Ingin menjadi kontributor? Jika berminat, silakan ajukan lamaran Anda untuk menjadi kontributor IFTC melalui email: redaksi@ift.or.id

Thursday, May 21, 2015

Mana yang lebih baik untuk uji antioksidan: ABTS atau DPPH?

Seiring dengan meningkatnya kasus penyakit kanker, maka beberapa produk pangan sebagai sumber antioksidan, kini makin banyak digali potensinya dan makin banyak diteliti. Hampir setiap senyawa bioaktif dalam pangan, selalu dikaitkan dengan aktivitas antioksidannya. Oleh karena itu, dalam artikel ini akan dibahas mengenai uji antioksidan dengan menggunakan dua senyawa populer: DPPH dan ABTS.

Kedua senyawa ini terbukti mampu untuk memberikan indikator kapasitas antioksidan dan lazim digunakan untuk analisis antioksidan pada bahan atau produk pangan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada 50 buah-buahan yang berpotensi memberi efek antioksidan, maka didapat hasil bahwa jika dibandingkan dengan DPPH, maka uji antioksidan dengan menggunakan ABTS ternyata lebih memberikan korelasi positif dengan oxygen radical absorbance capacity (atau ORAC), kadar fenol, dan kadar flavonoid.

Disamping itu, hasil analisis antioksidan dengan menggunakan ABTS dapat memberikan hasil yang lebih tinggi daripada pengujian dengan menggunakan DPPH. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa uji antioksidan dengan menggunakan ABTS ternyata mampu memberikan indikator antioksidan yang lebih baik daripada DPPH.

Artikel ini disarikan dari artikel dengan judul "Comparison of ABTS/DPPH assays to measure antioxidant capacity in popular antioxidant-rich US foods" yang telah dipublikasikan oleh Journal of Food Composition and Analysis Volume 24 Issue 7, p 1043-1048 November 2011.

-------------------------------------------------------

Cara menyadur artikel ini:
Indonesian Food Technologists. 2015. Mana yang lebih baik untuk uji antioksidan: ABTS atau DPPH? Newsletter IFT Edisi Mei 2015.

Tuesday, May 5, 2015

Susu kecipir dan potensinya untuk bahan pangan sumber protein

Rendahnya atensi masyarakat terhadap pemanfaatan kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) sebagai sumber protein alternatif disebabkan oleh rasa langu dari biji kecipir yang telah diproses. Para peneliti dari Program Studi Teknologi Pangan Program Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Pelita Harapan, Tangerang, yaitu Chiara Wijaya, Leonardus Broto Sugeng Kardono, Jeremia Manuel Halim telah berhasil untuk memperoleh metode untuk meningkatkan akseptabilitas susu kecipir dengan penambahan bahan penstabil dan jus jahe.

Penelitian ini berhasil dipublikasikan dalam Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Volume 4 Nomor 4 tahun 2015 yang dapat diperoleh artikel lengkapnya melalui link ini: http://journal.ift.or.id/node/182. Para penelitia ini mencoba untuk mengukur penerimaan konsumen terhadap aroma, rasa, viskositas, dan akseptabilitas susu kecipir secara keseluruhan setelah berbagai proses dilakukan.

Silakan download full artikelnya melalui link yang telah disediakan tersebut. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan akan memuat artikel pangan yang aplikatif seperti ini. Oleh karena itu, segera kirimkan artikel pangan Anda melalui portal resmi jurnal: http://journal.ift.or.id.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Artikel ini disusun oleh kontributor IFTCommunity.
Ingin menjadi kontributor? Jika berminat, silakan ajukan lamaran Anda untuk menjadi kontributor IFTC melalui email: redaksi@ift.or.id

Saturday, April 11, 2015

Makanlah buah tomat matang dan hindari daun tomat

Buah tomat merupakan buah yang lazim dimakan pada saat buah tersebut matang dan ketika buah tersebut belum matang, lebih baik dihindari untuk dikonsumsi karena mengandung komponen yang berbahaya yang dinamakan Solanine, yaitu salah satu golongan alkanoid. Selain itu, ada juga komponen yang dinamakan glikoalkaloid tomatin (glycoalkaloid timatine) dan beberapa glikoprotein yang jika dikonsumsi akan menimbulkan banyak gangguan kesehatan.

Komponen berbahaya tersebut ternyata juga terdapat di dalam daun tomat. Oleh karena itu, daun tomat tidak bisa untuk dikonsumsi. Banyak orang yang menggunakan daun tomat sebagai insektisida dan pestisida dengan mencampurkan daun tomat dengan air dan ditumbuk hingga tercampur merata dan diperam selama beberapa jam.

Efek yang muncul terhadap kesehatan adalah gangguan pencernaan seperti diare, dan gangguan iritasi pada kulit. Selain itu, juga dapat sebagai penyebab terjadinya migren. Oleh karena itu, makanlah buah tomat yang sudah matang agar terhindar dari terkonsumsinya komponen-komponen tersebut.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Artikel ini disusun oleh kontributor IFTCommunity.
Ingin menjadi kontributor? Jika berminat, silakan ajukan lamaran Anda untuk menjadi kontributor IFTC melalui email: redaksi@ift.or.id

ShareThis