Dari Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan

International Symposium on Food and Agro-biodiversity 2014

Internasional Simposium ini dilaksanakan pada tanggal 16-17 September 2014 di Semarang, Indonesia dan prosiding akan diterbitkan oleh ELSEVIER. Booking tiket Anda dengan mendaftarkan JUDUL ARTIKEL disini. Panitia hanya menerima maksimum 100 artikel ...

Portal Khusus Tanya Jawab Pangan

Portal ini ditujukan untuk memberikan ruang untuk bertanya kepada ahli tentang segala hal yang berhubungan dengan bidang pangan.

Portal Khusus Informasi Pangan Indonesia

Portal ini khusus untuk memuat artikel berupa berita serta tulisan ilmiah singkat populer yang ditujukan untuk masyarakat luas.

Jurnal pangan kami telah diakui LIPI dan sesuai kaidah DIKTI

Anda tidak perlu khawatir lagi terhadap kriteria dari LIPI dan DIKTI karena jurnal kami, sudah masuk dalam list jurnal yang diakui LIPI. Sejak pertama kali terbit, jurnal kami sudah online sehingga mudah untuk di track sesuai standar DIKTI.

Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan

Indonesian Food Technologist Community selalu menampilkan artikel yang menarik untuk disimak dan dikemas dalam sebuah jurnal yang bernama Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan (free access journal).

Wednesday, February 11, 2015

Prof. Rindit Pambayun kembali pimpin PATPI 2014-2018

Prof Rindit Pambayun terpilih kembali sebagai ketua umum PATPI periode 2014-2018. Pelantikan pengurus telah dilaksanakan pada tanggal 7 Februari 2015 di Universitas Sahid Jakarta. Turut hadir, ketua BPOM RI: Roy Sparingga, PhD.

Monday, February 9, 2015

Sarjana S-1 Teknologi Pangan sekarang bergelar S.T.

Berdasarkan nomenklatur yang baru sebagaimana yang telah dipublikasikan dalam draft lampiran peraturan menteri tentang rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi serta gelar lulusan perguruan tinggi tahun 2015, maka sarjana program studi Teknologi Pangan nantinya akan bergelar S.T. Nomenklatur ini adalah baru berupa draft yang sedang dinanti masukannya hingga tanggal 27 Februari 2015. Setelah mendapat persetujuan, maka draft ini akan ditetapkan.

Akankah lebih baik jika lulusan Teknologi Pangan S-1 bergelar S.T.?

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Artikel ini disusun oleh kontributor IFTCommunity.
Ingin menjadi kontributor? Jika berminat, silakan ajukan lamaran Anda untuk menjadi kontributor IFTC melalui email: redaksi@ift.or.id

Tuesday, December 30, 2014

Metode untuk Mengukur Derajat Keasaman Susu dengan Titrasi

Keasaman susu sering diukur dengan menggunakan cara titrasi menggunakan larutan alkali. Titrasi keasaman susu adalah jumlah ion OH yang ditambahkan untuk meningkatkan pH susu sebanyak 100 ml sampai sebesar 8,4. Jika pH susu sebesar 8,4 telah tercapai, maka phenolphtalein akan membuat warna susu menjadi pink yang stabil. Jika susu dinilai sudah asam, maka alkali yang digunakan untuk membuat susu menjadi pH 8,4, jumlahnya meningkat.

Derajat keasaman dapat bervariasi unitnya. Derajat SH atau ˚SH yang merupakan singkatan dari Soxhlet Henkel. Nilai ˚SH didapat dari titrasi dengan menggunakan 0,25N NaOH. Susu normal akan memberikan nilai 7˚SH. Sedangkan ˚Th atau Thorner degree juga dapat digunakan juga sebagai unit keasaman. Derajat Th ini didapatkan dengan cara melakukan titrasi dengan menggunakan 0,1N NaOH. Susu normal mempunyai nilai 15˚Th. Derajat Dornic atau ˚D juga dapat digunakan sebagai unit keasaman dan susu normal biasanya mempunyai nilai 15˚D. Derajat Dornic didapat dengan cara titrasi susu dengan menggunakan 0,1N NaOH. Sedangkan %l.a. atau % lactic acid juga dapat digunakan dengan membagi nilai ˚D dengan 100.

Disusun oleh Ahmad disadur dari beberapa sumber pustaka.

Cara sitasi sumber ini:
Ahmad. 2014. Metode-metode untuk Mengukur Keasaman Susu. Newsletter Indonesian Food Technologists.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Artikel ini disusun oleh kontributor IFTCommunity.
Ingin menjadi kontributor? Jika berminat, silakan ajukan lamaran Anda untuk menjadi kontributor IFTC melalui email: redaksi@ift.or.id

Saturday, December 27, 2014

Deep Fat Frying Amankah bagi Kesehatan?

Minyak goreng yang digunakan secara berulang-ulang berpotensi mengandung asam lemak trans. Konsumsi asam lemak trans berisiko memunculkan penyakit diabetes dan jantung koroner. Di Indonesia kebiasaan menggunakan minyak secara berulang lebih dari dua kali mencapai 24%. Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti: Ibnu Malkan Bakhrul Ilmi, Ali Khomsan dan Sri Anna Marliyati dari
Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB, berhasil membuktikan bahwa teknik menggoreng berulang kali dengan menggunakan teknik "deep fat frying" menunjukkan kadar asam lemak bebas dan peroksida minyak tidak berbeda nyata antara penggorengan pertama sampai keempat. Asam lemak terbanyak dalam minyak dan tahu adalah asam lemak oleat, linoleat dan palmitat. Rasio asam lemak linoleat dan palmitat tidak mengalami penurunan yang signifikan sampai penggunaan minyak keempat. Kadar asam lemak trans produk tahu sampai penggorengan keempat masih dalam batas aman.

Artikel ini merupakan salah satu artikel penelitian yang dimuat dalam Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Volume 4 Nomor 2 tahun 2015. Artikel lengkap dapat dilihat pada laman resmi jurnal yaitu www.journal.ift.or.id.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Artikel ini disusun oleh penulis JATP.
Ingin menjadi kontributor atau memasukkan artikel? Jika berminat menjadi kontributor IFT, silakan ajukan lamaran Anda untuk menjadi kontributor IFT melalui email: redaksi@ift.or.id. Pengiriman artikel pangan dilakukan melalui sistem online pada web www.journal.ift.or.id

Thursday, November 6, 2014

Jamur penghasil enzim selulase yang komplit

Jamur Lentinus levis mempunyai potensi yang tinggi untuk dikembangkan baik sebagai pangan fungsional ataupun sebagai penghasil enzim untuk melunakkan lignin. Jamur ini memiliki jumlah yang tinggi dalam serat, gula dan kalori rendah, dan merupakan sumber asam amino fenilalanin, tirosin dan trheonine.

Jamur ini menurunkan lignoselulosa melalui kerja enzim ekstraseluler hidrolitik seperti selulase, pectinases, xilanase, oksidase dan peroksidase. Lignin dapat terdegradasi oleh sistem ligninase, yang terdiri dari gabungan tiga aktivitas enzim: lignin peroksidase, mangan peroksidase dan lakase.

Jamur ini juga dapat mendegradasi hemiselulosa oleh keberadaan salah satu enzim yang bernama xilanase. Dari penjelasan singkat tersebut, maka jamur ini dapat dikembangkan untuk memperlunak kulit biji-bijian atau produk limbah pertanian untuk dapat dimanfaatkan secara lebih jauh untuk pangan di masa depan.

Ditulis oleh Ahmad N Al-Baarri, disadur dari Process Biochemistry 41 (2006) 594–598.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Artikel ini disusun oleh kontributor IFTCommunity.
Ingin menjadi kontributor? Jika berminat, silakan ajukan lamaran Anda untuk menjadi kontributor IFTC melalui email: redaksi@ift.or.id

ShareThis